Recruitment

Social Recruitment, Metode Penggalian Informasi Calon Karyawan

Beberapa tahun belakangan, beberapa media sosial mulai bermunculan dan berhasil menarik masyarakat untuk mulai menggunakannya. Dilansir melalui detik.com, lebih dari 106 juta orang di Indonesia menggunakan media sosial setiap bulannya pada tahun 2017. Tren menggunakan media sosial sebagai media komunikasi telah berhasil membangun masyarakat yang terbuka terhadap informasi. Hal ini ditunjukkan dengan semakin seringnya, masyarakat membagikan kegiatan dan pikirannya melalui media sosial. Menurut survei yang dilakukan oleh Global Web Indeks pada tahun 2016, waktu yang dihabiskan untuk berselancar menggunakan media sosial adalah sekitar dua jam.
Dengan adanya tren menggunakan media sosial ini, banyak perusahaan yang mulai menggunakan media sosial sebagai alat untuk mencari karyawan. Metode ini biasa disebut dengan social recruitment. Metode ini memanfaatkan platform media sosial calon karyawannya untuk mencari bagaimana citra calon karyawan tersebut. Lalu mengapa metode ini patut dipertimbangkan dalam variasi mencari karyawan baru? Menurut infografis yang di rilis Career Savvy, 1 dari 3 calon karyawan ditolak karena ‘jejak’nya di media sosial yang buruk. Selain itu, foto profil yang tidak profesional (foto yang memperlihatkan hal – hal yang menjuruskan ke SARA, pornografi, dan hal-hal negatif lainnya), komentar-komentar terkait pandangan politik, pandangan terhadap agama, dan isu-isu sensitif lainnya. Hal-hal tersebut mempengaruhi penilaian terhadap kepribadian calon karyawan. Metode ini sangat berguna dalam pencarian fakta terhadap calon kandidat. Namun tidak semua orang memiliki media sosial tertentu. Dilansir melalui kompas.com, setidaknya ada 500 juta pengguna aktif Linkedln dan sekitar 2 miliar pengguna aktif facebook setiap bulannya. Data tersebut memang dapat dijadikan dasar bahwa hampir semua orang memiliki media sosial. Tapi nyatanya tidak. Beberapa orang justru menghindari media sosial untuk menjaga privasinya dan beberapa alasan lainnya.
Selain tidak memiliki media sosial, ada beberapa orang yang mencoba menghindari menjadi ‘pencandu’ media sosial secara aktif. Artinya ia hanya memiliki media sosial tertentu tanpa menggunakannya secara aktif. Ada baiknya ketika menemukan media sosial calon karyawan, perhatikan kapan terakhir kali, ia beraktivitas di dalamnya. Jika sudah mencapai angka 2-5 tahun, mungkin saja calon karyawan tersebut tidak lagi menggunakan media sosial tersebut. Selain dari sisi calon karyawan, perusahaan yang mencoba menerapkan metode social recruitment perlu memahami beberapa hal. Salah satunya adalah jangan langsung menilai apa yang dilihat melalui media sosial tersebut dan mempercayainya sebagai fakta tentang kepribadian calon karyawan. Ada baiknya untuk mendiskusikan hal-hal yang masih diragukan dengan rekan yang lain.
Hal yang harus diperhatikan selanjutnya adalah seberapa banyak informasi yang perlu diketahui tentang calon karyawan. Informasi tersebut yang harusnya digali lebih dalam, bukannya informasi-informasi pribadi yang lainnya.
Metode social recruitment memang telah banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di dunia. Namun kebijaksanaan dari perusahaan yang menggunakannya juga sangat dibutuhkan. Jangan sampai hanya salah dalam memandang orang dari media sosial, Anda kehilangan calon karyawan yang justru akan mengguntungkan perusahaan.

Sumber :
https://inet.detik.com/cyberlife/d-3659956/132- juta-pengguna- internet-indonesia- 40-penggila-medsos
https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/menggunakan- media-sosial- tiap-hari/

Author


Avatar