HR Update, Leaves

Mengenal Karoshi, Fenomena Gila Kerja di Jepang

Jepang merupakan negara maju dimana masyarakatnya menjunjung tinggi budaya kedisiplinan dan etos kerja yang sangat tinggi.  Istilah ‘gila kerja’ sudah bukan hal yang asing lagi bagi para pekerja di negeri bunga sakura tersebut. Karyawan di jepang bisa lembur puluhan jam dalam seminggu hingga melebihi batas wajar jam lembur yang telah ditetapkan.  Bahkan saking gila kerjanya tidak sedikit diantara mereka tidur dijalan dan berangkat kembali bekerja keesokan paginya.

Dengan pola kerja yang tidak seimbang antara bekerja dan kehidupan sehari-hari (work life balance) banyak diantara mereka yang sampai kelelahan dan bahkan berujung pada kematian.  Fenomena ini oleh masyarakat jepang disebut karoshi yang artinya “overwork death” atau meninggal karena kelebihan bekerja. Karoshi kini menjadi suatu isu yang menghantui para pekerja dijepang. Bagaimana tidak Menurut sebuah survei nasional, seperlima dari angkatan kerja Jepang menghadapi risiko karoshi, mengingat mereka menghabiskan lebih dari 80 jam waktu kerja ekstra setiap bulannya.

Fenomena karoshi sendiri  merupakan imbas dari kejadian di masa lampau sejak berakhirnya perang dunia kedua. Seperti yang kita ketahui jepang termasuk salah satu negara yang kalah dalam perang dunia kedua. Kekalahan jepang dalam PDII membuat mereka merubah sistem mereka yang awalnya lebih memperkuat militer menjadi membangun perekonomian negara. Sejak saat itu, gagasan perusahaan adalah keluarga dan orang akan melakukan apa pun untuk keluarga mereka secara alami tertanam di benak para pekerja di Jepang. Dan kebijakan tersebut kini terbukti dengan berkembangnya perekonomian jepang dalam waktu singkat setelah kekalahanya pada PDII.  Namun dari kebijakan tersebut, kini jepang harus menghadapi sebuah fenomena yang cukup membahayakan bagi masyarakatnya.

Meskipun terbilang kebablasan,  kini pemerintah telah mengambil berbagai kebijakan untuk mengatasi fenomena ini.  Pada februari 2017 lalu pemerintah jepang bahkan memberikan bonus kepada siap saja yang pulang kerja pada pukul 15:00. Suatu kebijakan yang terbilang nyentrik di telinga kita mengingat dikebanyakan negara lainya seorang pekerja biasanya lembur untuk mendapatkan bonus tertentu. Hal ini dilakukan pemerintah jepang untuk mendorong karyawan pulang lebih awal dan dapat menikmati kehidupan mereka bersama keluarga di akhir pekan.  Program ini dinamakan premium friday. Program Premium Friday diluncurkan setelah serangkaian kematian dan bunuh diri terkait beban jam kerja yang berlebihan di Jepang. Namun pada kenyataannya, tidak semua perusahaan mengadopsi kebijakan tersebut. Terlebih karena bekerja keras di Jepang telah mendarah daging.

Author


Avatar