HR Update

KEBIJAKAN BARU FORMULASI KENAIKAN UMK TAHUN 2016

Pada bulan oktober yang lalu Presiden RI Joko Widodo telah menetapkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2015 yang mengatur tentang Pegupahan. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut telah diatur pula formulasi perhitungan upah minimum yang baru, dimana UMK akan di perhitungkan berdasarkan Tingkat Inflasi dan Tingkat Perumbuhan Ekonomi yang diukur melalui Pertumbuhan Domestik Bruto atau PDB. Adapun rumus yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu

UMP tahun depan = UMP tahun berjalan + (UMP tahun berjalan x (inflasi + pertumbuhan ekonomi)).

Dengan adanya formulasi ini evaluasi KHL (Komponen Hidup Layak) tidak akan digunakan dalam perhitungan kenaikan UMK setiap tahunya. KHL akan di evaluasi setiap 5 tahun sekali. Adanya peraturan ini sempat menuai pro dan kontra berbagai pihak. Pihak buruh atau pekerja menganggap kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah kurang pas karena dampaknya terhadap kenaikan UMK lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan pada tahun – tahun sebelumnya. Terlepas dari pro/kontra yang kini mengalir di masyarakat, kenaikan UMK untuk tahun 2016 dan tahun – tahun berikutnya sesuai dengan peraturan ini akan dapat diprediksi lebih awal karena menggunakan faktor pengukuran yang jelas. Tidak seperti perumusan kenaikan UMK pada tahun sebelumnya yang dinilai unpredictable oleh kalangan pengusaha. Dengan adanya perumusan ini apabila perusahaan dapat memprediksi jumlah kenaikan UMK maka jumlah Beban Perusahaan khususnya Beban Tenaga Kerja akan dapat diproyeksikan lebih akurat. Dengan adanya proyeksi yang lebih akurat perusahaan akan mampu menyusun rencana dan forecast pembelian dan penjualan dimasa depan. Formulasi ini tentu bukan merupakan satu hal yang paling mendasar untuk perencanaan perusahaan karena masih banyak faktor lain yang harus diperhitungkan seperti prediksi kenaikan bahan baku dan inflasi yang terjadi. Namun apabila perusahaan mampu meningkatkan produktifitas dan efeknya berdampak global tentunya hal ini akan meningkatkan tingkat pertumbuhan ekonomi (PDB) yang akan meningkatkan nilai kenaikan dari UMK itu sendiri. Formulasi yang telah diperundangkan pada tanggal 23 Oktober tersebut bukanlah hal yang baru, sebab sebelumnya banyak perusahaan yang telah menggunakan formulasi yang serupa dalam melakukan perhitungan kenaikan gaji setiap tahunnya. Adapun pula beberapa perusahaan yang menerapkan formulasi tersebut dengan menggunakan komponen variable yang lebih kompleks seperti Performance Indicator agar kenaikan upah yang dibarikan berbanding lurus dengan kinerja yang dihasilkan oleh karyawan. 

 

PP Nomor 78 Tahun 2015

Author


Avatar