Employee Data

Penentuan Pembagian Bonus Akhir Tahun Bagi Karyawan

Akhir tahun merupakan momen yang berkesan bagi semua orang termasuk para pekerja atau karyawan. Momen akhir tahun yang dekat dengan perayaan hari natal erat kaitanya dengan libur akhir tahun. Biasanya karyawan mengambil cuti yang cukup panjang untuk berlibur dan merelaksasikan pikiran setelah penat bekerja selama setahun. Tidak hanya lekat dengan cuti dan liburan akhir tahun juga merupakan momen yang ditunggu oleh karyawan karena biasanya pada akhir tahun mereka akan menerima penghasilan tambahan berupa bonus akhir tahun. Suatu penghasilan tambahan yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan atas kontribusi lebih seorang karyawan kepada Perusahaan. Biasanya bonus diberikan oleh perusahaan yang mencapai profit tertentu atau hasil melebihi dari target yang ditentukan di awal tahun. Bonus juga biasanya hanya diberikan kepada karyawan tertentu yang berhubungan langsung atau erat hubunganya dengan produk perusahaan. Namun sebaiknya perusahaan memiliki formulasi tertentu untuk dapat memberikan bonus untuk semua karyawan secara adil dengan parameter yang jelas. Memang agak susah untuk menentukan perhitungan bonus pada karyawan yang tidak berhubungan langsung dengan produk perusahaan seperti department accounting, HR, IT, Legal, dsb. Untuk memberikan gambaran bagi anda yang ingin menyusun penentuan bonus tahunan anda dapat menggunakan formulasi berikut. Formulasi ini merupakan formulasi yang umum digunakan dan tidak terbatas untuk perusahaan yang bersifat industri saja, bagi perusahaan di bidang jasa pun bisa digunakan.

Cara menentukan bonus karyawan bentuk tunjangan hari raya dan bonus akhir tahun:


Bentuk tunjangan hari raya,

rumusnya : point maker x gaji per bulan, dengan:
  • • Masa kerja < 1 tahun, norma point: Pro Rata, Rumus: (gaji : 12) x masa kerja
  • • > 1 tahun – < 2 tahun, norma point: 100%, masa kerja: tanggal masuk – lebaran
  • • > 2 tahun – < 4 tahun, norma point: 110%, masa kerja: tanggal masuk – lebaran
  • • > 4 tahun – < 6 tahun, norma point: 120%, masa kerja: tanggal masuk – lebaran
  • • > 6 tahun – < 8 tahun, norma point: 180%, masa kerja: tanggal masuk – lebaran
  • • > 8 tahun – < 10 tahun, norma point: 140%, masa kerja: tanggal masuk – lebaran
  • • > 10 tahun dan seterusnya, norma point: 150%, masa kerja: tanggal masuk – lebaran
  •  

Bonus akhir tahun,

rumusnya : (point maker x level jabatan x kategori dept x gaji) x surat peringatan, dengan:
  • • Masa kerja < 1 tahun, norma point: Pro Rata, Rumus: (gaji : 12) x masa kerja
  • • > 1 tahun – < 2 tahun, norma point: 90%, masa kerja: tanggal masuk – lebaran
  • • > 2 tahun – < 4 tahun, norma point: 100%, masa kerja: tanggal masuk – lebaran
  • • > 4 tahun – < 6 tahun, norma point: 110%, masa kerja: tanggal masuk – lebaran
  • • > 6 tahun – < 8 tahun, norma point: 120%, masa kerja: tanggal masuk – lebaran
  • • > 8 tahun – < 10 tahun, norma point: 130%, masa kerja: tanggal masuk – lebaran
  • • > 10 tahun dan seterusnya, norma point: 140%, masa kerja: tanggal masuk – lebaran

Point level jabatannya:
  • • Operator pelaksana, point jabatan 80%, sebagai posisi karyawan terendah
  • • Foreman, point jabatan 90%
  • • Supervisor, point jabatan 100%
  • • Superintendent, point jabatan 110%
  • • Manager, point jabatan 120%, sebagai posisi karyawan tertinggi

Point kategori departemennya:
  • • Produksi, point kategori 120%, kategori berat
  • • Non produksi, point kategori 110%, kategori sedang
  • • Supporting, point kategori 100%, kategori ringan

Surat Peringatan atau SP yang kena:
  • • Tanpa sanksi, bobot sanksi 100%, bagi yang pernah atau yang sedang menjalani
  • • I, bobot sanksi 90%, bagi yang pernah atau yang sedang menjalani
  • • II, bobot sanksi 80%, bagi yang pernah atau yang sedang menjalani
  • • III, bobot sanksi 70%, bagi yang pernah atau yang sedang menjalani
  • • Skorsing 3 bulan, bobot sanksi 60%, bagi yang pernah atau yang sedang menjalani
  • • Skorsing 6 bulan, bobot sanksi 50%, bagi yang pernah atau yang sedang menjalani

Formula di atas merupakan bentuk sederhana cara menentukan bonus karyawan yang bisa dijadikan contoh. Namun, untuk masing-masing angka bobot pointnya bisa direvisi oleh masing – masing perusahaan sesuai dengan kondisi keuangannya. THR bisa dipisahkan dengan bonus akhir tahun sesuai dengan peraturan pemerintah daerah atau gubernur yang tidak mengharuskan perhitungan dengan menggunakan presentasi sebagai bobot perhitungannya. Sedangkan bonus akhir tahun bersifat non normative. Tidak ada peraturan pemerintah daerah atau gubernur. Bonus akhir tahun tersebut bergantung pada keuntungan perusahaan di tahun tersebut. Jadi, misalkan tahun ini perusahaan malah anjlok keuntungannya, bonus seperti tahun-tahun kemarin bisa saja tidak diberikan. Cara menentukan bonus karyawan untuk bonus akhir tahun yang tidak memakai peraturan pemerintah tersebut sudah pasti harus jelas agar sifat adilnya bisa para karyawan rasakan.

Khususnya bagi mereka yang banyak berkontribusi dalam kemajuan perusahaan di tahun tersebut. Bagi mereka yang mendapatkan bonus sedikit, tentu saja mereka akan sadar kenapa bisa demikian. Nilai yang mereka dapatkan adalah hasil dari yang mereka berikan selama ini. Ia pun bisa memperbaiki diri dan memotivasi dirinya untuk lebih bekerja keras lagi agar tidak dikenai SP atau skorsing misalnya.

Sumber :
http://pakarkinerja.com/cara-menentukan-bonus-tahunan-untuk-karyawan-secara-fair/

Author


Avatar