Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam bagi umat Islam. Hal ini berarti ibadah haji adalah suatu hal yang wajib dilakukan oleh umat Islam yang mampu baik secara fisik, psikis, maupun ekonomi. Di Indonesia, pada tahun 2017 ini, setidaknya diberangkatkan sekitar 221 ribu calon jamaah haji dari berbagai daerah di Indonesia. Terbatasnya kuota haji dan waktu tunggu (waiting list) yang cukup panjang, menjadikan ibadah haji memperlukan persiapan-persiapan khusus menjelang keberangkatan. Bagi para karyawan, persiapan-persiapan ini memaksa untuk mengajukan cuti. Cuti haji biasanya diambil dalam jangka waktu relatif lama. Hal inilah yang membuat sebagian besar karyawan ragu terkait cuti naik haji. Oleh karena itu, simak beberapa pertanyaan lain yang sering muncul terkait cuti naik haji.

Berapa lama cuti naik haji yang aman?

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No. 41 tahun 2015 pada pasal 7, menyatakan bahwa maksimal cuti naik haji yang diajukan adalah selama 50 hari. Hal ini tentu berlaku untuk pegawai negeri sipil, namun tentu saja dapat menjadi ajuan bagi karyawan yang bekerja di perusahaan swasta.

Umumnya ibadah haji memperlukan waktu sekitar 12 hari untuk melakukan serangkaian kegiatan di Mekkah. Namun tentu saja waktu ini belum termasuk waktu pemberangkatan dan kepulangan. Sehingga Kementrian Agama Republik Indonesia, mengatur bahwa pelaksanaan ibadah haji untuk calon jemaah haji adalah sekitar 40 hari. Hal ini dikarenakan untuk memberangkatkan dan memulangkan para calon jamaah haji dengan menggunakan sistem kloter memperlukan waktu sekitar 28 hari.

Kapan waktu terbaik untuk memulai cuti naik haji?

Ibadah haji dilakukan di Arab Saudi, yang berarti calon jamaah akan melakukan perjalanan jauh untuk sampai di tempat ibadah. Perjalanan jauh membutuhkan stamina yang kuat dan kemampuan fisik yang telah dilatih sebelumnya. Penting bagi karyawan yang akan melakukan ibadah haji untuk mempersiapkan diri dengan baik sebelum hari keberangkatan. Oleh karena itu, karyawan dapat mengajukan cuti minimal lima hari sebelum hari keberangkatan. Waktu lima hari ini dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan fisik dan mental karyawan sebelum berangkat ke tanah suci.

Apa cuti naik haji berpengaruh terhadap cuti tahunan?

Cuti naik haji merupakan salah satu cuti spesial yang dalam pelaksanaannya tidak mengurangi hak karyawan atas cuti tahunan. Dengan asumsi bahwa karyawan tersebut telah memiliki hak atas cuti tahunan. Hal ini berarti ketika karyawan mengajukan cuti naik haji, ia akan tetap memiliki hak atas jatah cuti tahunan yang ia miliki. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai aturan ini, cuti naik haji yang diperbolehkan dan tidak mengurangi hak cuti tahunan adalah ibadah haji yang dilakukan pertama kali. Jadi, saat ada karyawan yang mengajukan cuti naik haji untuk ibadah haji yang kedua kalinya dalam hidupnya, hak akan cuti tahunannya akan berkurang.

Apakah karyawan masih mendapat gaji saat mengajukan cuti naik haji?

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, menjelaskan bahwa seseorang yang mengajukan cuti naik haji tetap berhak atas pembayaran gaji secara penuh. Perusahaan yang tidak membayarkan gaji karyawannya dengan alasan cuti naik haji dapat dijatuhi hukuman pidana paling singkat satu bulan dan paling lama 4 tahun. Hukuman ini juga diikuti denda minimal sepuluh juta rupiah dan maksimal empat ratus juta rupiah.

Kesempatan untuk melakukan ibadah haji merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Ada baiknya dengan menjalankan ibadah haji dengan sebaik-baiknya dengan mensucikan hati dan pikiran. Jangan sampai masalah pekerjaan menganggu ibadah yang dilakukan.

Paste your AdWords Remarketing code here