Awal bulan November, media masa di Indonesia dipenuhi berita pernikahan putri Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Pernikahan yang digelar pada 8 November 2017 di Solo, Jawa Tengah ini menyedot perhatian dari berbagai kalangan. Serangkaian acara yang menjadi adat dan tradisi suku Jawa menjadi headline beberapa media cetak maupun media elektronik.

Menikahkan anaknya merupakan keinginan setiap orang tua. Tidak sedikit dari orangtua-orangtua yang rela mengambil cuti dari pekerjaannya untuk menghadiri setiap momen penting di pernikahan anak-anaknya. Lalu sebenarnya bagaimana cuti menikahkan anak diatur dalam undang-undang?

Berdasarkan UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 79 ayat 2, setiap karyawan yang telah bekerja lebih dari 12 bulan berhak mendapatkan cuti tahunan 12 hari. Cuti tahunan ini dapat dimanfaatkan dalam berbagai kesempatan yang ada. Salah satunya adalah hajat untuk menikahkan anak.

Lalu apakah yang harus dipersiapkan untuk mengambil cuti menikahkan anak?

Durasi cuti

Hal utama yang harus dipersiapkan adalah berapa lama waktu cuti yang ingin diambil.  Sesuaikan waktu cuti tersebut dengan persiapan, acara inti, dan acara-acara lain yang berkaitan dengan pernikahan. Setelah mendapatkan durasi cuti yang diinginkan, diskusikan masa cuti tersebut dengan atasan. Jika atasan menyetujui, maka Anda dapat mengambil cuti tersebut.

Selesaikan pekerjaan sebelumnya

Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah pekerjaan Anda sebelumnya. Pastikan sebelum mengambil cuti yang berkaitan dengan acara keluarga, pekerjaan Anda sebelumnya telah selesai. Pastikan bahwa Anda tidak memiliki “hutang” pekerjaan pada rekan-rekan Anda sebelum Anda meninggalkan kantor. Hal ini berguna untuk mencegah kesalahpahaman dan tidak selesainya pekerjaan selama Anda cuti.

Berikan undangan pernikahan anak anda pada rekan-rekan kantor

Sebelum Anda meninggalkan kantor, ada baiknya Anda menitipkan undangan pernikahan anak Anda pada rekan-rekan kantor. Mengundang rekan terdekat Anda di kantor dapat menjaga hubungan baik Anda dengan rekan kantor. Selain itu, pernikahan anak Anda akan didoakan oleh banyak orang. Meninggalkan undangan juga dapat mencegah pikiran buruk rekan kantor bahwa Anda hanya mencari-cari alasan untuk dapat mengambil cuti.

Itulah beberapa hal yang dapat Anda persiapkan untuk mengambil cuti menikahkan anak Anda. Bagaimanapun juga sebagai orang tua, Anda tentunya ingin merasakan kebahagian anak Anda dalam melepas masa lajangnya. Selain itu, orangtua juga tentu berkeinginan untuk melihat anaknya duduk bahagia di pelaminan serta memberikan doa tulus untuk kebahagian anaknya. Lalu apakah Anda ingin momen bahagia itu rusak hanya karena masalah cuti di kantor? Tentu tidak. Maka dari itu, pikirkan masa cuti dengan sebaik-baiknya dan tentunya pikirkan di jauh-jauh hari.

Paste your AdWords Remarketing code here