Toxic Productivity atau bisa dikenal sebagai workaholic atau kecanduan kerja adalah suatu keinginan seseorang untuk terus menjadi produktif setiap saat dengan segala cara. Hal ini merupakan keinginan yang tidak sehat dimana membuat penderitanya merasa bersalah jika tidak terus menjadi produktif, atau tidak mengerjakan lebih baik atau lebih banyak. Mereka akan lebih fokus pada apa yang belum dilakukan daripada melihat apa yang sudah dicapai.
Toxic productivity yang berkepanjangan akan menyebabkan burnout yang justru membuat menjadi kurang produktif. Selain itu hal ini juga bisa mempengaruhi hubungan dengan orang lain karena cenderung menjadi pemarah dan sensitif dengan orang-orang sekitar.
Perlu diketahui bahwa toxic productivity ini seringkali muncul dari budaya di lingkungan kerja yang memberikan banyak tekanan, terbiasa dengan overworking, ketidaksetaraan dalam pembagian tugas hingga membandingkan karyawan yang satu dengan yang lainnya. Penting bagi perusahaan untuk memahami seperti apa budaya yang ada saat ini. Untuk memahaminya anda dapat mengenali ciri-ciri perusahaan dengan budaya toxic productivity.
Tekanan kerja yang tinggi
Ciri-ciri perusahaan yang mulai memiliki budaya toxic productivity salah satunya adalah tekanan kerja yang tinggi. Perusahaan menetapkan sebuah target yang tidak realistis dalam waktu singkat, sehingga karyawan mendapatkan tekanan yang sangat tinggi membuat mereka harus bekerja lebih keras dan lebih banyak daripada yang seharusnya.
Ketidakseimbangan kehidupan kerja
Tanda berikutnya adalah karyawan yang mulai kesulitan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Akibat dari pekerjaan yang mungkin terus bertambah atau ada rasa bersalah jika tidak bekerja ini membuat mereka bekerja diluar jam kerja atau bahkan saat cuti.
Budaya lembur yang tidak sehat
Dalam sebuah perusahaan sering kali ditemukan adanya budaya lembur, dimana karyawan sering merasa perlu untuk bekerja lembur atau tidak mengambil cuti meskipun sedang sakit. Hal ini bisa dikarenakan berbagai hal, contohnya atasan yang kurang peduli dengan kehidupan pribadi karyawan dan hanya berorientasi pada pekerjaan saja. Jika diteruskan maka budaya ini akan sangat melelahkan karyawan dan bisa mengganggu kesehatan mental nya.
Ketakutan pada hukuman
Ketakutan pada hukuman memang berpengaruh pada kepribadian masing-masing karyawan. Ada beberapa karyawan yang dapat secara vokal mengungkapkan alasan dibalik target yang tidak dapat tercapai atau lainnya. Namun bagi beberapa karyawan adanya hukuman yang diberikan jika target tidak terpenuhi akan menjadi tekanan tersendiri. Mereka akan berusaha untuk memenuhi target tersebut tanpa memikirkan kesehatan diri sendiri.
Penting bagi perusahaan untuk mengidentifikasi ciri-ciri ini dan mencoba mengatasi toxic productivity. Lakukan survei secara berkala tentang apa yang menjadi masukan dari karyawan perusahaan dapat menilai bagaimana keadaan perusahaan anda sebenarnya. Selain itu buatlah target-target yang realistis, adakan beberapa program yang mendukung kesejahteraan karyawan dan hargai kontribusi mereka dengan sepatutnya. Jika toxic productivity ini terus berlanjut tidak hanya membahayakan kesehatan karyawan namun juga tingkat produktifitas atau bahkan operasional perusahaan akan terganggu.
